Di panggung Indonesia Fashion Week 2026, jenama Duai Fav membawa nuansa berbeda lewat busana yang terinspirasi dari kudapan Saroja. Motif batik yang biasanya mengambil tema bunga atau geometris kini hadir dengan bentuk dan warna yang menyerupai camilan tradisional tersebut.
Kudapan Saroja sendiri dikenal sebagai jajanan khas yang sederhana namun punya cita rasa kuat. Penampilannya yang bulat dengan taburan gula dan tekstur renyah menjadi elemen visual yang diangkat langsung ke kain. Desainer Duai Fav tampaknya ingin menunjukkan bahwa inspirasi mode bisa datang dari hal-hal sehari-hari yang dekat dengan masyarakat.
Pemilihan motif ini juga mencerminkan upaya melestarikan keberagaman kuliner lokal melalui medium yang berbeda. Saat busana dipakai, cerita tentang Saroja ikut tersebar ke khalayak lebih luas. Ini bukan sekadar hiasan kain, melainkan cara mengenang dan memperkenalkan kembali makanan tradisional yang mulai jarang ditemui.
Dalam konteks industri mode Indonesia, langkah seperti ini bisa membuka peluang kolaborasi antara pelaku kuliner dan perancang busana. Misalnya, promosi bersama di mana penjualan busana turut mendukung penjualan kudapan atau sebaliknya. Selain itu, penggunaan motif lokal di panggung internasional seperti IFW berpotensi meningkatkan apresiasi terhadap warisan budaya yang selama ini lebih sering dilihat sebagai sesuatu yang kuno.
Proses pembuatan motif batiknya sendiri memerlukan ketelitian agar bentuk Saroja tetap terlihat jelas tanpa kehilangan estetika busana secara keseluruhan. Warna yang dipilih cenderung hangat dan menggugah selera, sesuai dengan karakter kudapan tersebut. Hasilnya, koleksi ini terlihat fresh dan berbeda dari tren batik yang biasa beredar.
Bagi penonton yang hadir di IFW 2026, koleksi Duai Fav ini memberikan pengalaman visual yang unik. Bukan hanya soal potongan atau bahan kain, tapi juga narasi yang dibawa. Saroja yang tadinya hanya dikenal di warung atau pasar kini naik ke atas runway dengan bentuk yang lebih artistik.
Tren memasukkan elemen makanan ke dalam desain busana sebenarnya sudah muncul di beberapa negara lain, namun di Indonesia masih relatif baru. Jika terus dikembangkan, pendekatan ini bisa menjadi identitas tersendiri bagi desainer lokal. Selain itu, generasi muda yang aktif di media sosial berpotensi ikut menyebarkan cerita di balik motif tersebut, sehingga dampaknya tidak hanya di panggung mode tetapi juga di ranah budaya digital.
Secara keseluruhan, langkah Duai Fav menunjukkan bahwa inovasi di dunia mode Indonesia tidak selalu harus mengikuti tren global semata. Mengambil inspirasi dari kudapan tradisional seperti Saroja justru bisa menjadi cara untuk tetap autentik sekaligus relevan dengan zaman sekarang.






