Kepala BP BUMN yang juga menjabat sebagai COO Danantara, Dony Oskaria, terus mendorong kerja sama antar perusahaan pelat merah. Langkah ini diambil untuk memastikan Koperasi Desa Merah Putih bisa berjalan lancar dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat desa.
Dalam pertemuan internal, Dony menekankan bahwa sinergi bukan sekadar formalitas. Setiap BUMN diminta membawa keahlian masing-masing agar operasional koperasi desa tidak terhambat masalah logistik, pendanaan, maupun manajemen.
Salah satu analisis yang muncul adalah potensi percepatan adopsi sistem digital di tingkat desa. Ketika BUMN yang bergerak di bidang telekomunikasi dan perbankan bersinergi, koperasi desa bisa lebih mudah mengakses platform pembayaran elektronik serta pencatatan inventaris berbasis aplikasi. Hal ini bisa mengurangi kebocoran dan meningkatkan transparansi tanpa perlu menunggu program terpisah.
Selain itu, latar belakang pembentukan Danantara sebagai pengelola investasi BUMN memberikan ruang lebih luas untuk mengarahkan sumber daya secara terintegrasi. Alih-alih setiap BUMN bekerja sendiri-sendiri, pendekatan terpusat memungkinkan prioritas proyek yang langsung menyentuh kebutuhan koperasi desa, seperti penyediaan alat pertanian modern atau infrastruktur penyimpanan hasil panen.
Gaya santai yang diusung dalam komunikasi internal ini juga penting. Alih-alih instruksi kaku, Dony lebih banyak mengajak diskusi terbuka agar setiap BUMN merasa memiliki peran. Hasilnya, komitmen yang muncul lebih organik dan berkelanjutan.
Ke depan, model sinergi seperti ini bisa menjadi contoh bagaimana lembaga negara mengoptimalkan kekuatan kolektif tanpa harus menambah anggaran baru. Koperasi desa yang didukung dengan baik berpotensi menjadi tulang punggung ekonomi lokal yang lebih mandiri.
Dengan koordinasi yang semakin solid, harapan besar tertumpu pada kemampuan Kopdes Merah Putih untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang menjadi entitas ekonomi yang adaptif terhadap perubahan zaman.
